Tulisan dalam Tulisan

Suatu saat kita ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa kita ungkapkan kepada orang lain. Entah itu berupa perasaan kecewa, kagum, benci, bangga, cemburu, atau apa pun. Sehingga, kita lebih memilih menuliskannya untuk menjadi remote yang akan kita gunakan untuk memunculkan kembali memori kita.

Namun, kisah atau ungkapan yang kita tuliskan itu bisa jadi bersifat permanen atau hanya ungkapan sementara semata. Setiap orang memiliki kisah-kisah dalam hidupnya. Pilihannya hanya dua, menganggapnya ada atau malah tidak sama sekali. Walau bagaimana pun kisah-kisah itu tetap saja terjadi dalam hidupnya.

Yang jadi persoalan adalah ketika kisah atau ungkapan perasaan yang tertulis itu hanya sementara. Dalam artian dia bisa saja tergantikan oleh kisah atau perasaan yang lain. Misalnya, seseorang sangat membenci orang lain yang dia anggap sebagai pesakitan. Dia menuliskan kebenciannya dalam catatan-catatan kehidupannya. Namun, suatu saat Tuhan berkehendak lain, menyatukan mereka dalam sebuah persahabatan. Maka, tulisan-tulisan tersebut walaupun masih ada, tetap saja tak bernyawa atau barangkali kesannya sudah beda.

Ketika sebuah kisah atau perasaan bersifat permanen itu bisa jadi dia memang permanen, misalnya sebuah ungkapan yang tak tersampaikan. Seseorang menyukai orang lain kemudian menuliskannya dalam catatan-catatan kehidupannya. Namun, orang tersebut sadar bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Sehingga, bisa jadi kisah tersebut akan berlanjut ketika ia dipertemukan dengan orang yang dia sukai dalam sebuah pernikahan dan kisah itu akan menjadi permanen. Jika tidak maka kisah tersebut akan tergantikan oleh kisah lain.

Saya pun ketika menuliskan kisah saya juga akan mempertimbangkan akan saya apakan tulisan saya, ketika tulisan tersebut berisi kisah atau ungkapan perasaan saya yang bisa jadi ia sementara atau mungkin akan menjadi permanen. Jika permanen maka ia akan menjadi tulisan abadi. Jika tidak maka saya mungkin akan mempertahankannya jika suatu saat diperlukan atau memilih opsi lain, menghapusnya.

Posted in Motivasi | Leave a comment

Toko pakaian/konveksi Ideal

Kali ini saya akan mengulas 2 buah prototype toko pakaian/konveksi ideal yang menjadi sarana pemiliknya untuk menjemput rizki dari Allah dan permiliknya telah mendapatkan berkah keuntungan yang berlimpah dari-Nya.

1. Toko Bandung Super Model (BSM) di Pati.

Pemilik toko tersebut merupakan sepasang suami-istri, Pak Sholahuddin dan Bu Alia. Toko tersebut merupakan perpanjangan tangan dari toko BSM di Malang yang dimiliki oleh saudara Pak Sholahuddin. Kini Pak Sholahuddin dan Bu Alia sudah memiliki 3 toko BSM di Pati yakni di daerah Tayu, Kajen, dan Juwana. Jika berkunjung ke Pati, silakan mampir. Mampir ke rumah saya juga boleh, tapi jangan heran kalau tiba-tiba bertemu kembaran Marshanda.😛

Hal yang membuat saya maupun orang-orang yang lewat di depannya takjub adalah bahwa setiap hari toko tersebut jauh dari kata “sepi”. Memang toko tersebut seperti medan magnet yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Ibarat orang seperti sedang tebar pesona. Eits, jangan berpikir yang tidak-tidak mengenai toko tersebut. Karena kedua suami-istri ini merupakan orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga tidak mungkin memanfaatkan guna-guna. Beda dengan pujangga cinta yang suka merapal jampi-jampi gombal untuk mengguna-guna hati orang. Catat!😀

Tata ruang toko BSM tidak di desain mewah seperti toko-toko baju pada umumnya. Justru sederhana. Tetapi dalam penataan produk, BSM seakan menyampaikan pesan kepada pengunjung bahwa BSM “kaya” akan produk-produk yang siap untuk dibeli. Pintu depan BSM sengaja terbuka lebar sehingga orang-orang yang lewat bisa melihat langsung “kekayaan produk” di dalamnya. Penerangan yang tajam juga membuat BSM semakin menarik. Sebelum masuk toko, kita dikejutkan dengan baliho besar yang mengajak kita mengunjungi BSM dengan tulisan yang sangat kreatif.

Terkait kualitas produk-produk di BSM, tidak perlu diragukan lagi, Pak sholahuddin dan bu Alia memilih produk yang berkualitas bagus dengan harga yang terjangkau. Produk-produk di dalamnya juga mampu memenuhi keterbutuhan pasar yang dituju yakni kalangan menengah ke bawah dan menengah keatas, ke samping, ke depan, ke belakang, satu, dua, tiga, empat, hehe.. Pokoknya komplit!

Saya pernah berbincang-bincang dengan Bu Alia. Beliau mengatakan bahwa kunci utama dalam mengembangkan BSM adalah manajemen yang kuat. Kemudian pak Sholahuddin juga menjelaskan kepada penulis tentang insting bisnis yang tajam untuk menyediakan produk bagi pelanggan. Mendirikan toko pakaian harus jeli untuk menganalisa keterbutuhan pasar. Jadi, jangan hanya menajamkan insting untuk merasakan kehadiran cowok/cewek bening yang tiba-tiba lewat.😛

2. NH Collection di Sukoharjo.
Toko ini terletak di Sukoharjo dan pemiliknya biasa dipanggil Bu Lis. Bu Lis adalah muslimah yang taat sehingga toko ini cenderung menjual baju busana muslim/ah dan pakaian-pakain yang sopan. Meskipun toko tersebut tidak berada di jalan raya, tetapi selalu saja ramai pengunjung.

Toko NH Collection memperhatikan kualitas produk yang dijual. Model-model baju yang dijual bermacam-macam dan menarik. Merek baju yang dijual juga bermacam-macam. Di NH-Collection kita bisa mendapatkan harga grosir jika ingin menjualnya kembali dengan membeli sesuai ketentuan batas minimal.

Sama seperti BSM, produk di dalam NH-Collection juga mampu memenuhi keterbutuhan pasar yang dituju yakni kalangan menengah ke bawah dan menengah keatas. Komplit! Insya Allah segala jenis pakaian di sana lengkap selama yang anda cari bukan pakaian yang terbuat dari kulit Naga.

Kedua toko tersebut bisa menjadi sumber “kulakan” untuk orang-orang yang ingin menjualnya kembali. Kedua toko tersebut juga sangat update mode. Bahkan BSM juga menyediakan baju ber-merek untuk orang-orang yang memiliki gengsi tinggi dalam berpakaian.

Saat ini, kebanyakan orang mulai cerdas untuk memilih baju dengan kualitas baik dan model yang menarik. Orang memperhatikan mode tidak lagi berdasakan merek. Sehingga merek-merek pakaian murah yang kualitasnya baik pun bisa bersaing dengan merek-merek pakaian mahal.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda yang ingin mengembangkan bisnis di bidang konveksi. Bagi yang ingin mengembangkan bisnis beternak ayam, silakan cari tulisan yang lain, tulisan ini mungkin kurang membantu anda. Selamat mencoba!🙂

Posted in Bisnis | Leave a comment

Mental Pejuang bukan Pecundang

Di rumahku, tidak ada satu pun penghuni yang menyebarkan energi-energi negatif seperti rasa marah, malas, egois, dan kebencian yang berlebih. Semuanya memperlihatkan etos kerja yang tinggi. Semua bermental pejuang. Bangun awal, melakukan ibadah, mengerjakan pekerjaan rumah, membersihkan diri, kemudian mencari nafkah. Semua menyebarkan energi positif.

Meski begitu, aku yang kerap pulang kampung saat libur kuliah kurang begitu merasakan energi ini. Sehingga, aku sering menuruti hawa nafsu yang membuatku malas untuk mengikuti ritme kehidupan di rumah yang begitu sibuk ini. Aku lebih suka mengurung diri di kamar, tidur, dan melakukan hal-hal yang sia-sia.

Begitu pula saat di Semarang, kota di mana aku menuntut ilmu. Aku yang juga seorang aktivis kampus ini sering mengabaikan amanah yang diberikan padaku juga sering membuat teman-temanku khawatir dan jengkel karena aku jarang membalas SMS, atau pun mengangkat telepon dari mereka. SMS-nya dari hal yang sangat penting dan penting. Jika SMS itu tidak penting, wajar saja aku abaikan. Jujur aku memang sedang malas untuk memperdulikan SMS-SMS itu dan lebih memilih untuk sibuk dengan diri sendiri.

Hingga aku merasakan ada yang mengganjal di hati. Baik saat aku kembali ke Semarang yaitu di kampus dan kost, maupun saat di rumah. Hatiku merasa tidak tenang merasa dan sesak sekali. Seringkali aku diliputi rasa was-was yang tidak menentu. Dari mulai merasa takut akan terkena penyakit bahkan hingga… merasa takut jika tiba-tiba malaikat Izroil mengambil nyawaku! Na’udzubillahi min dzalik.

Aku merasakannya hampir setiap hari. Sungguh, aku tidak ingin diliputi perasaan yang tidak tenang ini. Astagfirullah… Aku mencoba untuk tetap tenang saat tiba-tiba rasa was-was itu muncul. Aku mulai mendekatkan diri dengan Allah. Aku berpikir, mungkin ini merupakan teguran dari Allah dan mencoba introspeksi terhadap kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Namun, saat rasa itu menghilang, aku seakan lupa dengan tekad-tekad yang ku lakukan untuk berubah.

Dan teguran yang datang kali ini benar-benar mengejutkan. Ya… Setelah kemunculan rasa was-was itu, aku masih saja bersikap egois. Aku masih sering mengabaikan amanah yang diberikan padaku, membuat teman-temanku jengkel, dan semua itu sebetulnya menciptakan beban pikiran padaku. Aku jadi malas bertemu mereka, sering mengurung diri di kamar, cenderung menjadi penyendiri. Akhirnya, perasaan itu muncul kembali berupa psikosomatik, yakni penyakit yang muncul karena banyak pikiran.Dan perasaan itu ternyata sukses menyerang fisikku. Setan telah mengambil celah dari kelemahan dan kesalahanku.

Aku jadi sering merasa kaget, lebih cepat marah, tidak suka keramaian, berpikir negatif tentang apa yang telah menimpaku misal,’jangan-jangan aku jantungan, jangan-jangan aku tipes, jangan-jangan aku, jangan-jangan mau ma…ti…’

Na’udzubillahi min dzalik.

Hingga aku putuskan untuk pulang ke rumah, sebelumnya aku di jemput oleh ibu dan abah di sudut kota Pati, kota asalku.  Bersama abah dan ibu, aku menjadi lebih tenang. Aku menceritakan semua keluh-kesahku tentang apa yang aku rasakan pada abah dan ibu saat di mobil.

Setelah aku selesai bercerita, abah menasehatiku,”dulu ibu bahkan merasakan hal yang lebih parah darimu. Dan saat itu ibu bahkan dalam keadaan sakit keras dan sendiri. Waktu itu abah tidak ada. Tapi, ibu mencoba menghalau pikiran-pikiran negatif yang menyerang pikiran ibu. Bahkan, ibu justru semakin kuat karena itu. Anggap lah ini teguran dari Allah untukmu, agar kamu mau introspeksi.”

Abah menambahi, “mungkin mentalmu masih lemah. Jadi lah orang yang bermental pejuang, bukan pecundang.”

Sampai di rumah, abah dan ibu mencoba memberikanku terapi agar aku bisa menghalau perasaan was-was ini dan memperbaiki kondisi psikisku. Saat makan bersama, ibu mencoba berbicara padaku, “nduk, setan itu tidak akan pernah berhenti menggoda manusia. Setan itu merupakan musuh yang nyata. Coba lah untuk mendekatkan diri pada Allah. Yakin lah bahwa hidayah Allah itu pasti akan menang. Dahulu, Nabi Musa merasa hampir dijatuhi gunung saat diperlihatkan wajah Allah dan Nabi Muhammad pun sampai pingsan saat wahyu Allah turun. Yang terjadi padamu masih belum apa-apa. Jadikan ini sebagai hidayah yang diberikan oleh Allah dan cobalah untuk selalu bertawakkal kepada Allah. Kembalikan semua masalah dan urusan kepada Allah. Berpikir lah positif bahwa ini merupakan cobaan dan teguran agar kamu bisa menjadi orang yang berada di jalan-Nya.”

Aku pun mencoba untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dan memperbaiki diri. Aku mulai meminta maaf dengan teman-teman yang merasa terdholimi karenaku dan menyambung silaturrahim. Aku juga mencoba untuk lebih bertanggunga jawab. Kini, bisa ku rasakan energi positif baik di rumah dan lingkungan sekitar bisa ku rasakan. Barangkali, sebelumnya energi itu telah tertutup oleh hatiku yang terlampau kelam. Rasa was-was itu masih sering menyerang, tapi, aku tetap berusaha tegar. Aku berharap kebaikan ini akan terus mendampingi hidupku sampai aku berada di liang lahat. Amin…

Posted in Motivasi | 1 Comment

Menapaki Dimensi Keputusasaan (Puisi Berbahasa “Fisika”)

Oleh : Allyna Virrayyani – alfu_hamamah (seribu_merpati)

Mendapati diri berjalan terengah-engah

Di atas jalan yang menjauhi garis horizontal

Sejauh empat puluh lima derajat

Lebih-lebih kupikul beban bernewton-newton

Seakan itu semua reaksi fisi

Membelah-belah hatiku

Menghasilkan limbah nuklir beracun dalam nurani

Sampai tak lagi kurasakan getaran kehidupan

Hampa…

Hambar…

Fana…

Dimana kan kutemukan jalan hidup yang konstan?

Haruskah kutunggu keruntuhan gravitasi pendirianku

Hingga puncak emosiku meledak

Dan evolusi akhirnya berhenti

Saat Black Hole menghisap energiku?

Namun tak jua ku meluruh

Bahkan aku tetap bergerak translasi

Melawan gaya yang menjatuhkanku

Pasang surut beban-bebanku

Semakin memperkuat medan listrik dalam jiwa

Di atas jalanku yang menanjak

Masih terpatri koefisien gesek

Aku…masih punya tumpuan

Posted in puisi | Leave a comment

Peci Putih Ungkapan Hati Sang Kakek

Oleh : Allyna Virrayyani – alfu_hamamah (seribu_merpati)

Saat itu, aku dan keluarga besarku berada dalam perjalanan menuju kota Tangerang. Maksud kepergian kami adalah menjenguk paklik dan bulik yang sedang berbahagia karena Allah telah memberikan amanah seorang anak yang menjadi pelengkap keluarga mereka. Kami ke sana dengan bus yang telah kami sewa.

Aku duduk di barisan bangku kedua. Teman duduk di sebelahku adalah saudara sepupu perempuanku, Neli. Neli duduk tepat di dekat jendela dan ia sedang menikmati pemandangan malam hari di sepanjang jalan. Di bangku depan kami, tepatnya bangku barisan pertama, duduklah kakek dan nenek. Kakek lah yang duduk tepat di dekat jendela.

Kakek sudah sangat sepuh dan beberapa saraf bliau mengalami kerusakan yang menyebabkan beliau kesulitan untuk bergerak dan berbicara. Aku mengawasi beliau kalau-kalau beliau membutuhkan sesuatu. Dengan perlahan beliau melepas peci putih di kepala beliau dan menggenggamnya dengan tangan beliau seakan benda itu adalah benda sakral. Tentu, benda itu adalah teman bliau saat bersimpuh di hadapan-Nya.

Kakek ingin meletakkan peci tersebut di atas bantal yg berada di pangkuan teman duduk sebelah bliau yg sedang tertidur, yakni nenekku. Betapa beliau mengalami kesulitan meletakkannya hanya agar kedua tangan beliau bisa bertumpu pada apa pun yang bisa menahan beliau dari goncangan di perjalanan dalam bis yang tentu tak lebih berat dari goncangan cobaan beliau itu. Aku membantu beliau meletakkan peci tersebut.

Sesekali kakek memandang wajah nenek. Peci itu hampir terjatuh karena letaknya tidak stabil. Beberapa kali kakek mempertahankannya agar tidak jatuh dengan susah payah karena beliau kesulitan bergerak. Beberapa kali pula nenek bergerak dalam tidur beliau entah karena kurang nyaman atau apa, aku tidak begitu tahu.

Kakek merasa tidak enak hati menaruh beban peci tersebut di atas bantal nenek. Beliau seperti merasa betapa nenek dengan sabar merawat beliau setiap hari di saat beliau menghadapi cobaan seperti ini. Aku yakin walau pun beberapa saraf beliau mengalami kerusakan, tetapi hati belau masih tetap hidup. Takut menganggu tidur nenek, lantas dengan perlahan kakek mengambil peci itu dan mnggenggamnya kembali.

Posted in cerpen | Leave a comment

Hati, Prinsip, dan Cinta

Oleh : Allyna Virrayyani – alfu_hamamah (seribu_merpati)

Benteng yang dibangun untuk hati, jika dihantam terus-menerus akan roboh jua. Maka tak perlu repot-repot membangun benteng. Hati itu lembut tapi liar. Salah2 malah hati kita sendiri yg akan menghancurkan benteng itu karena keterkekangannya yg membuatnya semakin memberontak.

Nikmati saja apa yang tiba-tiba hadir menyapa hati kita. Yangg perlu kita lakukan adalah kuatkan prinsip agar tidak terperosok dan tidak berlarut-larut dalam permasalahan yang menyebabkan hati enggan keluar dari kubangan yang melenakannya. Tak perlu kita menipu diri sendiri dengan menolak kenyataan yang bertolak belakang dengan prinsip kita. AKUI dan HADAPI.

Prinsip bagi seorang wanita bukanlah sebuah benteng pengekang namun sebuah pelindung yang anggun. Pelindung yang harus dijaga dengan cara yang indah, bukan menyiksa diri. Prinsip adalah pelindung kehormatan baik secara lahir maupun batin yang harus selalu kita jaga tanpa mengingkari fitrahnya. Jika hati senantiasa berdzikir pada-NYA, maka cara-cara yang indah itu pasti akan diperlihatkan tanpa kita takut akan kehilangan kehormatan hati kita.

Di saat semua kita kembalikan padaNYA, maka kita akan mampu menyikapinya dengan bijak. Jika kita telah terlanjur terlena dan takut kehilangan itu semua, ingatlah bahwa dengan kita mencintai ALLAH, DIA tidak akan pernah membuat kita merasa kehilangan. Karena DIA akan selalu ada untuk kita.

Posted in Motivasi | Leave a comment

Demonstran pun Belajar

Oleh : Allyna Virrayyani – alfu_hamamah (seribu_merpati)

Derap langkah-langkah puluhan mahasiswa merangsek melewati pintu gerbang gedung DPRD kota Semarang. Ini aksi pertama yang aku ikuti. Aku diajak oleh kakak tingkatku, mbak Annisa, sebagai bagian dari pengkaderan. Mbak Annisa adalah aktivis jilbaber yang memiliki kepedulian tinggi. Tentu saja dia mengajakku agar aku juga bisa belajar untuk menumbuhkan rasa peduli.

Kami semua berhenti tepat di depan gedung DPRD. Seorang mahasiswa yang menjadi orator sekaligus koordinator lapangan dalam aksi itu mulai berorasi. “Hidup mahasiswa! Kawan-kawan semua, kita di sini menuntut reformasi birokrasi di tubuh DPRD kota Semarang! Sebentar lagi kita akan melaksanakan pesta demokrasi, yaitu pemilihan calon walikota. Apakah kita ingin dipimpin oleh pemerintah yang korup?!”

“Tidak!” Sahut para mahasiswa dan mahasiswi.

Dan seterusnya, kemudian disusul oleh orasi beberapa mahasiswa lain. Aku hanya diam mengamati. Ada beberapa aliansi mahasiswa dalam aksi tersebut. Aku dan mbak Annisa sendiri mewakili salah satu EGM, KAMU (Kesatuan Aksi Mahasiswa Umum). Orator-orator yang berorasi merupakan perwakilan dari setiap aliansi dan mereka berorasi secara bergantian.

Aksi masih kontroversial di kalangan mahasiswa. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. “Menurutmu, apa aksi itu penting, Haula?” tanyaku suatu hari pada teman seperjuanganku di KAMU, seorang mahasiswi yang berjilbab rapi, Latifah Haula.

“Ya pentinglah, Ririn. Itu salah satu bentuk real kepedulian kita untuk bangsa ini. Jangan dikira aksi itu hanya buang-buang tenaga. Aksi juga bisa membangkitkan dan menyadarkan masyarakat serta sebagai controller kebijakan pemerintah,” jawabnya.

Dan sekarang aku berada di tengah-tengah para demonstran.

Satu bulan berikutnya, aku diundang oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Pusat Universitas Semarang Raya mewakili BEM Fakultas MIPA untuk menghadiri konsolidasi aksi yakni rapat pra-aksi yang membahas konsep dan persiapan aksi yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Aksi tersebut berupa pengajuan kontrak politik untuk calon walikota Semarang sebagai komitmen saat terpilih yang dilaksanakan pada waktu penetapan calon walikota dan ditandatangani oleh para calon.

Aku lumayan paham dengan manejemen aksi dari training sebelum masuk KAMU. Namun, di sini aku jadi lebih paham. Kami mempersiapkan mulai dari target aksi, isu yang diangkat, publikasi, penentuan rute aksi, susunan dan tugas perangkat aksi, persiapan logistik, dan koordinasi.

Pimpinan rapat konsolidasi adalah koordinator lapangan saat pertama kali aku ikut aksi, namanya Pasha, yang baru-baru ini aku tahu ternyata dia adalah “dhalang” aksi di Universitas Semarang Raya. Aku lebih banyak diam dan mengamati orang-orang di sekitarku yang jago beretorika dan mengeluarkan pendapat. Aku hanya memilin-milin jilbabku karena bingung harus bicara apa. Aku memang harus banyak belajar.

Saat aksi, kami mengadakan briefing terlebih dahulu dilanjutkan orasi pembuka oleh mas Pasha. Kemudian kami mulai bergerak. Aksi berjalan dengan tertib, tidak anarkis. Aku melihat koordinator lapangan untuk barisan perempuan sibuk merapikan barisan.

Aksi berjalan dengan baik. Pada saat itu perwakilan dari mahasiswa melakukan negosiasi dengan perwakilan dari DPRD. Kami mencapai target yang kami inginkan, yakni para calon menandatangani kontrak politik tanpa terkecuali.  Selesai aksi kami melakukan evaluasi.

***

Suatu saat mas Pasha memberitahuku bahwa bulan Mei, akan ada aksi besar-besaran yang diadakan oleh BEM Seluruh Indonesia untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.  ”Tolong Fakultas MIPA mengagendakannya. Kita membutuhkan banyak peserta,” tegasnya. “Sip,” jawabku. Dia juga memberi tahu kepada seluruh Fakultas.

Kali ini aku benar-benar sadar betapa pentingnya kematangan isu, betapa pentingnya menyamakan isu sebelum melakukan aksi. Koordinasi tentunya lebih sulit. Sehingga jika isu tidak benar-benar matang bisa terjadi perbedaan di masing-masing kepala.

Perwakilan dari Universitas Semarang yang menghadiri rapat konsolidasi di Jakarta adalah mas Pasha. Konsolidasi dihadiri oleh Perwakilan seluruh Universitas di Indonesia. Dua hari setelah konsolidasi, dia mengundang perwakilan seluruh fakultas untuk mengadakan konsolidasi. Lagi-lagi aku yang menjadi perwakilan Fakultas MIPA

“Kita akan mengikuti aksi memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta. Saya harap setiap fakultas mengirimkan delegasi. Ada tiga isu yang diusung. Pertama ACFTA, kedua Century, dan ketiga pendidikan,” ujar mas Pasha. Dia menegaskan agar setiap perwakilan menjelaskan kepada para peserta aksi sejelas-jelasnya. Jangan sampai peserta hanya ikut-ikutan saja tanpa mengerti isu yang diusung dan hal-hal penting lainnya

Dari fakultas Mipa hanya aku dan satu orang teman yang ikut, Dewi. Bagiku tidak masalah. Berapa pun orang yang ikut dari fakultas MIPA, jika memang sungguh-sungguh untuk ikut aksi dan paham betul tujuannya, itu sudah cukup. Memang jumlah peserta sangat penting dalam aksi. Tetapi dari fakultas lain telah mengirimkan pejuang-pejuang tangguh yang memperkokoh barisan. Ku lihat jumlah yang mengikuti aksi dari Universitas Semarang Raya sangat banyak.

Aksi berlangsung di depan gedung Istana Negara. Aku melihat ratusan mahasiswa dengan bermacam-macam jaz almamater memenuhi tempat aksi. Saat aksi berlangsung, aku bisa merasakan atmosfer yang luar biasa hebat dalam aksi ini. Ini aksi yang sangat besar, aksi nasional. Aparat keamanan sulit sekali didobrak. Bahkan mereka telah menyiapkan tambang untuk menghadang kami.

Goal Setting kami adalah berhasil memasuki Istana Negara dan bertemu dengan presiden. Meskipun kami beberapa kali mencoba mendobrak pertahanan aparat keamanan secara teratur, tetap saja kami tidak berhasil. Walau bagaimanapun kami telah berusaha sekuat tenaga.

***

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 17 Agustus, BEM Pusat Universitas Semarang Raya mengadakan aksi kemerdekaan dengan mempersembahkan teatrikal. Aksi kali ini menurutku sangat menarik. Aku dan Haula mewakili Fakultas MIPA. Kami bertugas memegang  spanduk besar dengan tulisan “Sudahkah Indonesia Merdeka?” sebagai tema dari aksi ini.

Aku menyadari, apa pun fungsi dari peserta aksi, tidak ada yang percuma jika dilakukan dengan ikhlas. Meski hanya diam pun tetap menyumbangkan diri untuk memperkokoh barisan.

***

Dua bulan berikutnya, tepatnya tanggal 28 Oktober, BEM Pusat Universitas Semarang Raya mengadakan aksi penggalangan dana untuk korban bencana merapi di Yogya sekaligus memperingati sumpah pemuda. Aksi dihadiri oleh 32 orang mahasiswa dan mahasiswi termasuk koordinator lapangan, mas Pasha. Setiap fakultas mengirimkan delegasi dan harus ada orator dari setiap fakultas. Ada tujuh fakultas yang mengirimkan delegasi.

Aksi dilakukan di tengah-tengah pertigaan jalan raya. Aku baru menyadari bahwa perwakilan dari fakultas MIPA tidak ada mahasiswa putra yang ikut dan hanya ada dua mahasiswi, aku dan Diyah, kawanku yang juga berjilbab.

“Ririn, kamu yang jadi perwakilan orator Fakultas MIPA ya,” todong mas Pasha.

‘Tega sekali orang ini. Mengapa harus memaksakan kehendak agar semua fakultas berorasi. Jelas-jelas dari Fakultas MIPA tidak ada mahasiswa putra yang ikut aksi,’ batinku agak jengkel.

“Tidak bisa, Mas. Fakultas kami tidak ada putra yang menjadi delegasi,” jawabku sambil mengerling ke arah Diyah meminta persetujuan. Diyah mengangguk tanda setuju.

“Tidak bisa begitu. Setiap fakultas harus memberikan perwakilan untuk orasi. Jika tidak ada putra yang mewakili, terpaksa putri yang berorasi. Itu sudah menjadi konsekuensi,” sergah mas Pasha agak memaksa.

Aku diam saja. Mas Pasha memberikan tanda kepada perwakilan Fakultas Ilmu Budaya untuk memberikan orasi. Orasi dibawakan oleh Anjar. Dia memang terkenal jago orasi dan beberapa kali membawakan orasi saat aksi. Tentu saja itu tidak membuatku merasa tenang. Aku menunggu orang yang sepertinya jarang atau bahkan tidak pernah berorasi sehingga aku merasa memiliki teman. Tetapi aku tidak menemukan orator yang terlihat gagap dan gugup.

Aksi dimulai dari pukul 9. Pukul 10, aku melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi meninggalkan tempat aksi karena ada jadwal kuliah. Hari itu memang hari aktif. Tiba-tiba aku berpikir untuk kabur saja dari tempat itu. “Diyah, kita pergi saja yuk! Kita ikut teman-teman kita yang juga pergi,” ajakku sambil menggandeng tangan Diyah.

Diyah sebenarnya agak kurang setuju tetapi aku memaksanya. Aku tidak mau disuruh berorasi. “Kamu mau menggantikan aku orasi?” aku mengancam. “Sangat tidak mau,” jawabnya. Akhirnya dia terpaksa setuju.

Belum lama aku dan Diyah meninggalkan barisan, tiba-tiba mas Pasha memanggil kami. “Ririn! Diyah! Mau kemana kalian?”

Kami berhenti dan menengok dengan perasaan agak terkejut. “Kkami juga mau pergi mas, sama seperti teman-teman lain,” jawaku agak gugup.

“Alasan kalian pergi apa? Kalau mereka memang karena ada kuliah jam ini.”

Aku dan Diyah tidak bisa menjawab. Akhirnya kami kembali ke barisan. Ingin rasanya aku menimpuk mas Pasha dengan sepatu, tetapi itu tidak mungkin terjadi. Aku merasa sangat gugup. Aku sibuk menyusun kata-kata untuk berorasi.

“Ririn harus optimis, kamu pasti bisa!” Diyah mencoba menenangkanku. Aku mengangguk perlahan.

Satu menit, dua menit, tiga menit, akhirnya saat itu tiba. “Kawan-kawan semua, kita akan mendengarkan orasi dari perwakilan Fakultas MIPA. Mari kita sambut, hidup mahasiswa!” Teriak mas Pasha menggunakan mikrofon.

Mahasiswa-mahasiswa lain mengikuti, “hidup mahasiswa!”

Aku menerima mikrofon dari mas Pasha. Aku mencoba untuk tenang dan mulai berorasi, “hidup pemuda Indonesia! Hidup rakyat Indonesia! Satu lagi kawan-kawan semua, hidup pemudi Indonesia!”

Para mahasiswa-mahasiswi mengikuti di setiap jeda.

Aku melanjutkan, “Kawan-kawan semua, hari ini tanggal 28 Oktober, yakni hari di mana kita memperingati  sumpah pemuda. Kita berdiri di sini karena kita ingin membuktikan bahwa kita peduli dengan bangsa ini! Kita peduli dengan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah merapi di Yogya kawan-kawan! Kita semua adalah pemimpin! Menjadi pemimpin tidak harus secara struktural dengan menempati posisi strategis, kita juga bisa memimpin secara fungsional untuk mengawali perubahan, perbaikan, dan menjadi pelopor untuk mengajak teman-teman kita gar bisa lebih peduli dengan bangsa ini! Teriakkan kawan-kawan, hidup pemuda Indonesia! Hidup rakyat Indonesia! Hidup pemudi Indonesia!”

Aku merasa sangat lega. Aku kembali ke barisan. Diyah tersenyum kepadaku. “Itu bisa,” ujarnya. Aku nyengir. “Maaf ya, Diyah” kataku. “Iya, Ririn,” jawab Diyah sambil tersenyum.

Selesai orasi, kami menyebar ke setiap titik di jalan raya. Kami melakukan penggalangan dana dengan meminta ke setiap mobil yang berhenti saat lampu menyala merah. Kemudian setelah aksi selesai, kami menghitung uang hasil penggalangan dana.

“Ini adalah suatu bentuk pembelajaran, Ririn,” tiba-tiba mas Pasha memulai pembicaraan. “Saya tahu kamu tadi tidak siap untuk orasi, tetapi beginilah kondisi aksi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sehingga kita harus selalu siap dengan apapun yang terjadi, kapan pun itu. Menjadi seorang demonstran itu harus berani, harus siap dengan segala resikonya, dan harus siap berkorban. Karena kita melakukannya untuk kepentingan banyak orang. Saya meminta kamu berorasi itu sebagai stimulan untuk menumbuhkan keberanian dan kecepatan berpikir. Tidak hanya kamu, beberapa teman-teman yang tadi berorasi ternyata juga belum pernah melakukannya. Kita di sini sama-sama belajar dan memahami bagaimana menjadi seorang demonstran yang sesungguhnya.”

“Aku pertama kali orasi juga dadakan kok. Tapi aku berusaha untuk berani dan tenang, akhirnya aku mendapatkan kemudahan,” Anjar menambahi.

Aku mengangguk paham. Aku teringat kembali saat mengikuti beberapa aksi. Aku menyadari bahwa aku telah menjalani suatu tahapan pembelajaran saat menjadi demonstran, sang pejuang jalanan.  Mungkin orang tidak menyadari pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari sebuah aksi jika tidak pernah mengikutinya. Tetapi aku telah menjalaninya dan aku mengerti.

Posted in cerpen | Leave a comment